Rangkaian Pengaman Tegangan lebih

Ini proteksi tegangan atau perlindungan sirkuit crowbar digunakan di mana kita perlu perlindungan terhadap lonjakan tegangan tinggi. Rangkaian memiliki beberapa komponen, sangat mudah untuk membangun dan akan melindungi peralatan listrik dari tegangan lebih. Rangkaian crowbar harus dipasang antara power supply dan perangkat yang dilindungi.

Atas perlindungan sirkuit tegangan didasarkan pada kekuatan ketika tegangan listrik meningkat terlalu banyak thyristor short circuit output. Ini berarti bahwa tegangan itu dengan cepat dihapus dari terminal peralatan listrik dan sekering F1 akan terbakar.

Tegangan dimana perlindungan crowbar mulai diatur antara 5V ​​dan 25V dengan P1. Sesuaikan P1 dengan nilai perlawanan maksimal. Sementara ganti sekering dengan kawat untuk menghubungkan sirkuit linggis Pada power supply variabel. menyesuaikan batasan jumlah pada 1 A tegangan output pada nilai yang diinginkan untuk mengaktifkan perlindungan linggis. Perlahan memutar P1 sampai aktivasi thyristor (ketika limitator saat terlibat. Tetapkan sirkuit tegangan linggis. Ganti jembatan kawat dengan sekering (5A). Dalam keadaan normal sirkuit mengambil 1 mA.

Source: http://www.electroschematics.com

Skema Rangkaian Alarm Monitor Sikring

Rangkaian Alarm monitor sikring ini sangatlah sederhana namun lumayan untuk mendeteksi apakah sikring telah putus atau belum. Dengan adanya lampu LED menyala berarti sikring telah putus. Kita bisa langsung menyimpulkan bahwa rangkaian tidak bekerja karena sikring telah putus. Tidak usah mengukur tegangan ada atau tidak.

Rangkaian ini cuma membutuhkan dua komponen saja yaitu Resistor bengan nilai 1k ohm dan sebuah lampu LED dipasang paralel dengan sikring. Apabila tegangan beban berlebih atau mengalami korsleting maka sikring akan putus dan lampu led otomatis menyala karena Lampu led telah mendapat tegangan.

Skema rangkaian mesin penetas telur otomatis

Skema rangkaian penetas telur otomatis ini cukup sederhana dan mudah untuk dibuat. Komponen utama dari rangkaian ini adalah thermistor. Thermistor adalah komponen atau sensor elektronika yang dipakai untuk mengukur suhu. Prinsip dasar dari termistor adalah perubahan nilai tahanan (atau hambatan atau werstan atau resistance) jika suhu atau temperatur yang mengenai termistor ini berubah. Dengan sensor ini tentunya kita bisa mengatur suhu ruangan sesuai dengan yang kita inginkan. Oleh karena itu skema rangkaian ini bisa dipakai untuk mesin penetas telur otomatis. Mesin penetas telur otomatis itu pada prinsipnya ketika suhu meningkat lebih dari seharusnya atau setelannya maka pemanas atau lampu akan padam atau kipas penyedot akan menyala. Dan ketika suhu ruangan melewati batas suhu terendah maka pemanas atau lampu akan menyala. Skema rangkaian yang saya berikan ini sangat tepat dengan prinsip atau cara kerja dari sebuah mesin penetas telur otomatis.

Skema rangkaian penetas telur otomatis

Transistor menggunakan jenis PNP misal  ZT2284 atau BC557 atau BD140

Ilustrasi penempatan alat:

Cara kerja rangkaian:

Suhu ruangan untuk mesin penetas telur biasanya 37.8° C atau 100° F. Ketika suhu ruangan diatas 38°C relay akan bekerja untuk menghidupkan kipas penyedot dan mematikan lampu. Ketika suhu ruangan turun dibawah 37° C maka relay mati dan lampupun menyala. Lamanya relay bekerja diatur oleh VR2 (Hysteresis= perbandingan suhu tertinggi dengan terendah). Perbedaan suhu hanya berkisar 0.5°-1°. . VR1 mengatur tinggi rendahnya suhu yang ingin dicapai. VR3 untuk menghaluskan pengaturan suhu yang ingin dicapai.

Catatan:
Relay yang digunakan menggunakan relay yang 2 Pin, Pin pertama untuk kipas, dan pin satunya lagi bisa digunakan untuk menyalakan dan mematikan lampu. Ketika relay mendapat tegangan atau lagi bekerja maka lampu mati demikian pula sebaliknya ketika relay tidak mendapat tegangan maka lampu menyala. Jadi tidak usah membuat rangkaian yang kedua.

Sumber:  http://www.craig.copperleife.com

Fungsi Transistor (Transistor Function)

Sebelum masuk ke Fungsi Transistor saya perlu menjelaskan dasar dasar transistor supaya lebih mengenal apa yang dimaksud dengan Transistor. Transistor adalah komponen elektronika yang tersusun dari dari bahan semikonduktor yang memiliki 3 kaki yaitu: basis (B), kolektor (C) dan emitor (E). Berdasarkan susunan semikonduktor yang membentuknya, transistor dibedakan menjadi dua tipe, yaitu transistor PNP dan transistor NPN.
Untuk membedakan transistor PNP dan NPN bisa dilihat dari arah panah pada kaki emitornya. Pada transistor PNP anak panah mengarah ke dalam dan pada transistor NPN arah panahnya mengarah ke luar.

Bias Transistor
Untuk dapat bekerja, sebuah transistor membutuhkan tegangan bias pada basisnya. Kebutuhan tegangan bias ini berkisar antara 0.5 sampai 0.7 Volt tergantung jenis dan bahan semikonduktor yang digunakan.
Untuk transistor NPN, tegangan bias pada basis harus lebih positif dari emitor. Dan untuk transistor PNP, tegangan bias pada basis harus lebih negatif dari emitor. Semakin tinggi arus bias pada basis, maka transistor semakin jenuh (semakin ON) dan tegangan kolektor-emitor (VCE) semakin rendah.

Bias Transistor

Pada gambar terlihat bahwa TR1 adalah termasuk jenis NPN, jadi tegangan bias pada basis (Vbb) harus lebih positif dari emitor (Vee). Untuk memudahkan maka Vcc ditulis dengan +Vcc dan Vee ditulis dengan -Vee. Dan TR2 adalah termasuk jenis PNP, jadi tegangan bias pada basis (Vbb) harus lebih negatif dari emitor (Vee). Untuk memudahkan maka Vcc ditulis dengan -Vcc dan Vee ditulis dengan +Vee.

Transistor sebagai Saklar
Dengan mengatur bias sebuah transistor sampai transistor jenuh, maka seolah akan didapat hubung singkat antara kaki kolektor dan emitor. Dengan memanfaatkan fenomena ini, maka transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik.

Fungsi Transistor Sebagai Saklar

Pada gambar terlihat sebuah rangkaian saklar elektronik dengan menggunakan transistor NPN dan transistor PNP. Tampak TR3 (NPN) dan TR4 (PNP) dipakai menghidupkan dan mematikan LED.
TR3 dipakai untuk memutus dan menyambung hubungan antara katoda LED dengan ground. Jadi jika transistor OFF maka led akan mati dan jika transistor ON maka led akan hidup. Karena kaki emitor dihubungkan ke ground maka untuk menghidupkan transistor, posisi saklar SW1 harus ON jadi basis transistor TR3 mendapat bias dari tegangan positif dan akibatnya transistor menjadi jenuh (ON) lalu kaki kolektor dan kaki emitor tersambung. Untuk mematikan LED maka posisi SW1 harus OFF.
TR4 dipakai untuk memutus dan menyambung hubungan antara anoda LED dengan tegangan positif. Jadi jika transistor OFF maka led akan mati dan jika transistor ON maka led akan hidup. Karena kaki emitor dihubungkan ke tegangan positif, maka untuk menghidupkan transistor, posisi saklar SW2 harus ON jadi basis transistor TR4 mendapat bias dari tegangan negatif dan akibatnya transistor menjadi jenuh (ON) lalu kaki emitor dan kaki kolektor  tersambung. Untuk mematikan LED maka posisi SW1 harus OFF.

Transistor sebagai penguat arus
Fungsi lain dari transistor adalah sebagai penguat arus. Karena fungsi ini maka transistor bisa dipakai untuk rangkaian power suplay dengan tegangan yang di set. Untuk keperluan ini transistor harus dibias tegangan yang konstan pada basisnya, supaya pada emitor keluar tegangan yang tetap. Biasanya untuk mengatur tegangan basis supaya tetap digunakan sebuah dioda zener.

Fungsi Transistor Sebagai Penguat Arus

Pada gambar tampak dua buah regulator dengan polaritas tegangan output yang berbeda. Transistor TR5 (NPN) dipakai untuk regulator tegangan positif dan transistor TR6 (PNP) digunakan untuk regulator tegangan negatif. Tegangan basis pada masing masing transistor dijaga agar nilainya tetap oleh dioda zener D3 dan D4. Dengan demikian tegangan yang keluar pada emitor mempunyai arus sebesar perkalian antara arus basis dan HFE transistor.

Transistor sebagai penguat sinyal AC
Selain sebagai penguat arus, transistor juga bisa digunakan sebagai penguat tegangan pada sinyal AC. Untuk pemakaian transistor sebagai penguat sinyal digunakan beberapa macam teknik pembiasan basis transistor. Dalam bekerja sebagai penguat sinyal AC, transistor dikelompokkan menjadi beberapa jenis penguat, yaitu: penguat kelas A, penguat kelas B, penguat kelas AB, dan kelas C.

Fungsi Transistor Sebagai Penguat Sinyal AC

Pada gambar tampak bahwa R15 dan R16 bekerjasama dalam mengatur tegangan bias pada basis transistor. Konfigurasi ini termasuk jenis penguat kelas A. Sinyal input masuk ke penguat melalui kapasitor C8 ke basis transistor. Dan sinyal output diambil pada kaki kolektor dengan melewati kapasitor C7.
Fungsi kapasitor pada input dan output penguat adalah untuk mengisolasi penguat terhadap pengaruh dari tegangan DC eksternal penguat. Hal ini berdasarkan karakteristik kapasitor yang tidak melewatkan tegangan DC.

Pengendali motor servo dengan generator pulsa

Skema Rangkaian Motor Servo Controller atau Pengendali Motor Servo ini adalah desain dasar yang sederhana dari pengendali motor servo dengan generator pulsa. Ia menggunakan IC CMOS 7555 dalam modus astabil untuk menghasilkan pulsa untuk menggerakkan motor servo. Rangkaian dapat dimodifikasi sesuai untuk mendapatkan pulsa cukup panjang.

Servo adalah perangkat kecil yang memiliki poros output. Poros ini dapat diposisikan ke posisi sudut tertentu dengan mengirimkan servo sinyal kode. Selama sinyal kode ada pada baris masukan, servo akan mempertahankan posisi sudut dari poros. Posisi sudut poros ditentukan oleh durasi pulsa yang diterapkan pada kawat kontrol. Ini disebut Pulse Modulation Coded.

Servo biasanya membutuhkan pulsa setiap 20 milidetik (.02 detik). Panjang pulsa akan menentukan seberapa jauh motor berubah. Umumnya, 1,5 milidetik pulsa akan membuat pergantian motor ke posisi 90 derajat. Ini disebut Posisi Netral. Jika denyut nadi lebih pendek dari 1,5 ms, motor akan mengubah poros untuk dekat dengan 0 derajat. Jika denyut nadi lebih panjang dari 1.5ms, poros berubah mendekati 180 derajat.

Cara Kerja:
 Rangkaian ini dirancang untuk memberikan sinyal kontrol ke Servo.IC1 ini dirancang sebagai vibrator multi astabil yang dapat memberikan pulsa untuk pengoperasian Servo tersebut. The VR2 10KPot, R1 dan kapasitor C1 menentukan waktu Tinggi dan Rendah pulsa. Karena VR2 adalah variabel, waktu Tinggi bervariasi dari 2,07 menjadi 1,03 mS mS. Waktu yang rendah akan menjadi 40,5 mS. Dengan menyesuaikan VR1, mudah untuk mendapatkan timing.VR3 yang tepat menyesuaikan tegangan 1,6 volt kontrol ke pin kontrol 5 dari IC1.

Sebuah kontrol tegangan juga bisa dipasok dari luar. Kemudian VR3 harus dihilangkan. Kontrol tegangan dapat disediakan dari power supply variabel yang memberikan output 0-10 volt. Kontrol tegangan akan mengontrol posisi motor servo yang terhubung ke output. Ketika perubahan kontrol tegangan, servo akan bergerak ke posisi baru yang sesuai dengan nilai tegangan kontrol baru. 0 volt menyebabkan servo untuk tetap di satu ujung dan 10 volt ke ujung yang lain. Jika volt kontrol 5 volt servo tetap di posisi tengah. 

Sumber:  http://electroschematics.com

inspirasi, ide, untuk hidup yang lebih hidup

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: