Catur wulan di rumah bambu

Empat bulan telah kami lalui dengan perasaan yang campur aduk antara senang, suka, jengkel dan duka. Pasang surut perasaan inilah yang menjadikan kehidupan ini semakin indah saja.  Disaat teman-teman telah memiliki rumah gedongan, kami masih tinggal di rumah kayu.

Dan muncul protes dari jagoan kami supaya segera merenovasi rumah supaya bagus, miris juga sih dan pengin banget segera bisa renovasi lagi tapi apa daya belum ada materialnya jadi tidak bosan-bosannya memberi pengertian pada jagoan ini.

Namun kasih sayang diantara kami tidaklah luntur dan hilang walaupun kondisi kami masih dalam masa berjuang, ada satu kebahagiaan yang tak tergantikan ketika kedua jagoan kami berkata “ayo papa pulang ke rumah Ngijo” satu kata yang menggambarkan kerinduan akan rumah priadi yang memang masih diperjuangkan agar semakin layak huni.
Ilove you jagoan-jagoanku obey and joy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s