Usul Sistem Kompetisi Sepak Bola di Indonesia

Sepak bola dicinta bila berprestasi, eforia TIMNAS ketika berlaga di AFC cup sungguh luar biasa walau belum dijawab dengan prestasi puncak, namun Garuda di dadaku sesaat menjadi idola bagi semua rakyat Indonesia “bisa dikatakan seperti itu”.

Namun berbanding terbalik ketika Garuda harus menyerah 10-0 dari Bahrain, sanjung puji sirna berganti komentar-komentar miring dan kekecewaan mendalam dari masyarakat.

Tulisan ini bukan bermaksud menambah sumpah serapah, namun diharapkan menjadi pencerahan bagi pengambil kebijakan persepakbolaan nasional dalam meyelenggarakan kompetisi yang kompetitif yang menghasilkan TIMNAS yang tangguh.

Pola sederhana sebenarnya dan bahkan orang tak berpendidikan pun tahu bahwa olah raga bukan hal instan yang dalam sekejap dapat diraih, namun sebuah proses panjang untuk berprestasi dan bahkan banyak gelontoran dana untuk mempercepat raihan prestasi tersebut.

Langsung saja saya menyoroti sistem kompetisi di Indonesia yang boros dan tidak menyentuh unsur pembinaan. Pemborosan tersebut terjadi karena kompetisi diikuti oleh tim dari seluruh Indonesiayang bertanding sepanjang tahun dengan jarak tempuh yang jauh, yang tentunya hal ini akan mempertinggi biaya akomodasi bagi tim ketika menjalani laga tandang, sebagai contoh bila Tim Persipuran menjalani laga tandang melawat Semen Padang maka Tim Persipura harus terbang ke Sumatra yang tentunya tidak sedikit biayanya.

Usulan saya sebaiknya liga Indonesia di pecah dalam lima (6) region, Sumatra; Jawa Madura; Bali Nusa Tenggara; Kalimantan; Sulawesi; Papua, dimana di setiap region diikuti 16-20 tim, kompetisi berjalan semusim seperti biasanya, pada musim berikutnya 3 juara tiap region akan bertanding layaknya Liga Champion dimana Tropi Liga Champion ini adalah Tropi Tertinggi dalam Supremasi Liga di Indonesia, juara liga champion inilah yang akan mewakili Indonesia dalam Liga champion Asia.

keuntungan sistem ini adalah setiap tim akan menghemat biaya akomodasi perjalanan, yang tentunya anggaran ini dapat dialihkan untu pembinaan pemain, perbaikan fasilitas stadion, juga perlu pembatasan jumlah pemain asing di setiap TIM  misalkan setiap tim maksimal mempekerjakan  3 pemain asing,

Saya kira sistem seperti ini akan membuat liga lebih kompetitif..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s